Rabu, 08 Maret 2017

Penantian tanpa Alasan

Entah ingin melanjutkan perasaan ini, atau juga ingin mengakhiri. Tapi bagaimana ingin diakhiri ? Jika hati ini selalu tertambat ke satu nama saja. Hanya nama itu yang selalu ada, melengkapi setiap langkahku untuk tetap yakin terhadap tulang rusukku. Dan jika dia mendustai takdirnya, aku akan selalu menemaninya untuk menyerukan namanya dalam setiap do'aku. Engkau pun tahu saat penantian cinta menemukan ujung manis untuk berhenti, dan saat itulah kau sadar do'a yang selalu kupanjatkan memelukmu dalam kesendirianmu.

Sebenarnya, sangat menikmati proses penantianmu selama ini. Senyuman itu, selalu bisa kurasakan memelukku ketika aku memikirkannya. Tentang kamu, persaingan perasaan antara suka dan benci. Suka, karena semua tentangmu mengingatkanku untuk tetap yakin dan menjalani penantianku. Dan benci, karena semua tentangmu membangun rasa menyakitkan untuk dipahami dan dimegerti ketika kau mendustakan segalanya hanya untuk senangmu yang bersikap fana.

Tak banyak yang kunanti dan kuminta dalam setiap do'aku. Itu hanya tentang perasaan seorang hamba kepada pencipta-Nya, karena dengan mendekati pencipta-Nya, maka akan dimudahkan cara agar penantian itu cepat sampai pada ujungnya, ujung yang indah dalam inginku untuk memilikimu. Tapi, menyentuh anganmu pun aku tak mampu untuk sekaran, bukan tak mampu melakukannya. Sebab, aku ingin berdiri disana bersamamu dan tidak hanya menghalalkan atas kamu, tapi juga atas agamaku dan agamamu ...

Senin, 06 Maret 2017

Hatimu Samudera Anganku

Hari, bulan dan tahun bersamamu ...
Ragaku, Jiwaku serta Hatiku selalu tertambat padamu ...
Menuntunku untuk selalu berjalan bersama ke anganmu ...
Anganmu hanya bahasa keraguan dimatamu ...
Anganmu hanya lautan dalam yang tak bisa hanya diselami ...
Anganmu bagai ombak yang tak tahu kapan hentinya ...
.
.
.
Hari-hari berikutnya ...
Aku ucapkan sebuah kata manis kepadamu
Sebagai penenang dirimu sebelum engkau tidur
Dan dirimu hanya tersenyum dan memandang ke sebuah kata itu
.
.
.
Bulan-bulan selanjutnya ...
Engkau menitipkan surat kepada seseorang
Dia dan kamu, untaian keretakan yang lewat dikepalaku
Dia dan kamu, rangkaian bunga bangkai di suatu kataku
.
.
.
Tahun-tahun tanpamu ...
Aku biarkan diriku menyelami anganmu
Meski kutahu berat ...
Aku, kau dan mereka yang membaca tulisan ini
Berdo'a atas nama kita
Dan aku pun semakin dalam dan sampai pada dasarnya anganmu
Kini aku tahu, kau adalah bagian tulang rusukku yang kucari dan kunanti

Rabu, 01 Maret 2017

Aku Menanti untuk Menunggumu

Aku melihat dirimu, seperti yg kukenal dahulu. Aku benar-benar menyukainya, rasanya aku akan selalu bahagia. Rasanya terasa hangat ketika bersemayam di benakku, mengiringi setiap jantungku untuk membawanya ke kehidupan nyata.

Apakah aku merindukanmu ? Empat tahun tanpamu membuatku menyadari bahwa kau sangat berarti di hidupku. Aku hanya menantikanmu selama ini, berjuang sendiri untuk kisah kita. Apakah engkau juga demikian ? Menantikan kumulus-kumulus itu berlalu membawa butiran kisah kita yang dilaluinya. Waktu tak pernah mencatat kita dan kita pun tak pernah bisa mencatat waktu, dia selalu berjalan mengikuti takdir semesta. Lantas siapa yang salah dan untuk mengapa dipermasalahkan ? Aku sudah terlanjur patah hati didepanmu, namun aku ingin kumulus itu kembali dan memulai kisah kita di kemudian.

Lalu apakah empat tahun ini cukup bagi kita untuk saling memaafkan ? Ataukah aku akan patah hati untuk kedua kalinya ? Karena cinta yang membuatku bertahan untuk mengagumimu, hanya itu alasan yang membuatku terus menantimu ...

Senin, 01 Desember 2014

Cerpen

Ayahku Nabiku


Pagi hari yang sangat cerah  menghangatkan suasana rumahku yang berada di ujung kanan perumahan Permai Tuban. Aku tinggal bersama ayah, kakak-kakakku dan adikku karena sudah lama mama meninggalkan kita semua karena terserang penyakit kanker otak saat itu aku baru berusia 7 tahun dan adikku Bibil baru berusia 2 tahun. Aku memang masih anak-anak saat itu namun aku merasa telah kehilangan satu sayapku . Tapi ayah selalu membuat kita semua merasa nyaman dan bahagia walaupun agak sedikit protective.
Hari ini hari minggu, ayah mengajak kita semua untuk bergotong royong membersihkan rumah.
Masing-masing harus membersihkan kamarnya sendiri setelah itu membantu ayah membersihkan seisi rumah dan halaman.
“Raya ambilkan sekop digudang, kuncinya tanya Bi Sri” teriak ayah dari halaman belakang kepada Kak Raya, kakak pertamaku.
“Iya ayah” balas kakakku lalu masuk kedalam rumah.
“Ayah kak Asdha dan Kak Tara jailin Bibil!!!!!” teriak adikku, aku dan Kak Asdha memang suka sekali mengusili Bibil karena Bibil suka nangis kalau diusilin.
“Sini nak. Ayahkan sudah ngasih tau kalau di usilin jangan nangis nanti kamu di usilin terus sama kak Asdha dan Kak Tara” tegur ayah sambil menghentikan memotong rumput
“Huhuhu Bibil ditakut-takutin belalang yah” rengek Bibil sangat menggemaskan.
“Yasudah Bibil duduk disini saja ya?” kata ayah, lalu melanjutkan memotong rumput. Aku dan Kak Asdha hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat Bibil merengek.
Selesai kerja bakti membersihkan rumah, aku segera mandi lalu makan bersama. Masakan Bi Sri rasanya lumayan sama dengan masakan mama dulu, maka dari itu aku, Kak Raya dan Kak Asdha serta Bibil tidak terlalu suka jika ayah mengajak kita makan diluar.
“Selamat makan anak-anak ayah” itulah yang selalu dikatakan oleh ayah ketika makan bersama.
Pagi ini tidak seperti pagi kemarin, suasana dirumah sangat ramai karena persiapan berangkat  sekolah. Masing-masing sangat sibuk dengan ini, itu, cari inilah, cari itulah. Setelah sarapan kita semua termasuk ayah langsung bergegas pergi untuk menuntut ilmu. Dimobil sangatlah ramai dan seru, yang paling bikin seru adalah mengusili Bibil.
Pertama ayah mengantar Kak Raya dan Kak Asdha disebuah SMA terfavorit di Tuban yaitu SMA 2 Genius. Lalu mengantarku di SMPN 3 Tuban dan ayah melanjutkan perjalanannya menuju kantor sekaligus mengantar Bibil karena kantor dan sekolah Bibil jaraknya sangat dekat.
Dikelas tidak ada pelajaran karena memperingati Maulid Nabi para siswa pun mengikuti lomba-lomba yang diadakan oleh OSIS. Termasuk aku, aku mengikuti lomba baca tulis Al-Qur’an bersama teman-temanku  ada Ulia, Andin dan juga Lisyi untuk mewakili kelas 9G. Hari itu sangat seru, selesai mengikuti lomba baca tulis Al-Qur’an aku dan temanku menonton pertandingan futsal. Semua bersorak-sorak gembira ketika Cesar teman sekelasku berhasil membobol gawang lawan. Pertandingan semakin seru dan cuaca menjadi semakin panas.
Pengumuman pemenang keseluruhan lomba pun dibacakan. Aku sangat degdeg-an menunggunya. Tapi aku yakin dengan kekompakan tadi aku bisa mendapat juara walaupun tidak juara pertama.
“Juara pertama lomba pidato jatuh kepada kelas 8D...” pengumuman perlombaan sangat membuatku cemas. Ketua Osis pun terus mengumumkan juara perlombaan tersebut hingga akhirnya
“Juara pertama lomba BTQ atau Baca Tulis Qur’an jatuh kepada kelas sembilan.............. C...... eh maaf salah sebentar” kata ketua Osis lalu mencoba mengecek karena ada kekeliruan dalam menulis kelas.
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” teriak semuanya mengejek
“Maaf. Oke saya akan mengulang. Juara pertama lomba BTQ atau Baca Tulis Qur’an jatuh kepada kelas ...9G”
“Yeeeeeeeeeeeee” teriakku serta teman-teman sekelasku. Aku merasa sangat senang bisa menjadi juara pertama dan itu juga karena kekompakan kita bersama.
Pukul 14.00 ayah menjemputku, dimobil aku menceritakan semua kepada ayah dan ayah sangat senang mendengarnya tapi tidak dengan Bibil....
“Cuma gitu aja sudah bangga........” ejek Bibil dan aku mulai kesal dengan Bibil lalu mencubit kedua pipinya yang seperti bakpao. Taklama Bibil pun menangis kesakitan.
“Ya Allah Kak Tara nggakboleh kasar-kasar dengan Bibil. Ayo minta maaf” suruh ayah dan aku meminta maaf kepada Bibil lalu Bibil menggigit jariku.
“Haduh.. ih jorok. Bibilllll” mendengar aku merengek kesakitan ayah dan Bibil tertawa geli.
Diperjalanan menuju sekolah Kak Raya dan Kak Tara aku hanya diam saja mendengar Bibil meminta maaf kepadaku.
Beberapa menit menunggu akhirnya Kak Raya dan Kak Asdha muncul dan mereka berdua segera masuk mobil tak lupa juga bersalaman dengan ayah.
“Kenapa nih? Kok cemberut?” tanya Kak Raya kepadaku
“Tauk” jawabku singkat. Ayah menceritakan semuanya kepada Kak Raya dan Kak Asdha.
“Oh jadi gara-gara pipi bakpao ini. Rasain iniiii” Kak Asdha mengeluarkan gantungan kunci yang menyerupai belalang pemberian dari Paman. Bibil pun menjerit ketakutan
Dan seperti biasa Kak Raya selalu cuek dan sibuk dengan ponselnya. Kak Raya memang paling cuek diantara kita berempat tapi Kak Raya peduli kepada kita dan terkadang membosankan.
Sampai dirumah, selesai ganti baju serta mencuci tangan dan kaki aku menuju  ruang makan, diruang makan aku baru menemui ayah, Kak Asdha dan juga Bibil lalu dimanakah Kak Raya?
“Sore semua... loh ayah, Kak Raya dimana?” tanyaku lalu meneguk segelas air putih.
“Katanya kurang enak badan” jawab ayah sambil sibuk mengambilkan nasi buat Bibil.
“Ooo gitu” jawabku
“Selamat makan anak-anak” seru ayah dan semua mulai makan.
Seusai makan kak Asdha mengajakku kekamar Kak Raya, dan kutemui Kak Raya hanya berbaring diatas ranjang.
“Kak Raya kenapa?” tanya Kak Asdha lalu kak Raya duduk
“Aku putus sama Ivon Dha” kata kak Raya sambil menangis, ya biasalah anak muda patah hati langsung galau dan tidak nafsu makan.
“Ha? Kakak pacaran?!?” teriakku terkejut karena ayah paling melarang kita untuk berpacaran.
“Hustttttttttt!” cletus Kak Asdha membungkam mulutku dengan erat.
“Tara diam! Jangan sampai ayah tau” timpal Kak Raya.
“Ops maaf. Ivon itu siapa kak?” tanyaku lagi
“Kak Ivon itu kapten basket disekolahku. Dia baik, cool wah pokoknya sipdeh dik” jelas Kak Asdha
“Emang kelas berapa kak?” cletusku
“Teman sekelas Kak Raya. Deket juga dengan kelas X-A, kelasku” terang Kak Asdha dan aku menggangguk mengerti. Tiba-tiba ayah datang kekamar Kak Raya.
“Raya... gimana Nak? Sudah membaik. Kalau sudah selesai mandi kita sholat jama’ah Ashar” kata Ayah
“Sudah kok yah, iya ayah” jawab Kak Raya.
“Asdha , Tara mandi dulu nanti kita sholat jama’ah!” suruh ayah , aku dan Kak Asdha pun menurut.
Malam harinya selesai sholat Isya’ jama’ah ayah menyarankan gagasannya yaitu...
“Anak-anak besok ayah mengundang para anak panti untuk datang kemari memperingati maulid Nabi SAW. Jadi ayah berharap kalian ikut serta dalam acara tersebut. Mengaji, berceramah atau terserah yang kalian bisa”
“Siap ayah” jawab kita serempak bersamaan.
“Yascudah hari sudah malam, kalian harus tidur karena besok sekolah” sambung beliau lalu kita semua pergi kekamar masing-masing dan tidur.
Keesokan harinya sepulang sekolah banyak mobil catering makanan dihalaman rumahku. Banyak orang yang sibuk, menata ini dan itu. Meletakkan disini dan disana
Selesai sholat Ashar aku dan ketiga saudara ku menemui ayah dikamar.
“Ayah?” panggil Bibil manja
“Eh kalian. Ada apa?” jawab ayah
“Ayah rindu mama ya yah?” tanyaku
“Iya. Ayah masih ingat sewaktu kamu berusia 5 tahun mamamu selalu mengajak para anak panti untuk mengadakan maulid Nabi dirumah ini. Dan mamamu yang mengaji untuk kita semua, suaranya begitu merdu dan indah membuat hati tentram” jelas ayah sambil menitikkan airmata. Aku dan ketiga saudaraku ikut menangis lalu memeluk ayah.
“Ayah....... ayah selalu ada buat kita semua. ayah selalu membuat kita merasa nyaman, bahagia dan rukun. Ayah selalu mengingatkan kita sholat, belajar, makan dan lainnya. Ayah adalah nabi kita semua. Kita sayang ayah” kataku
“Iya ayah.. ayah adalah nabi bagiku. Ayah selalu ada buatku dan adik-adik, Raya sayang ayah” sambung Kak Raya
“Asdha juga ayah... Asdha sayang ayah” kata Kak Asdha. Dan kulihat ayah tersenyum lalu mendekap kita semua dengan kasih sayang. Lalu aku bertanya kepada Bibil “Bibil nggak sayang ayah?”
“Sayang kok, sayang bingit malah” jawabnya tetap memeluk ayah
“Bibil alayyyyyy” jawabku dan kakak bersamaan lalu kita tertawa, ayah pun ikut tertawa.

Para tamu sudah datang, aku, ayah, Kak Raya, Kak Asdha dan Bibil menemui mereka semua. Ditengah acara Kak Raya dan Bibil bergantian ceramah disambung dengan ketua panti asuhan , lalu aku dan Kak Asdha bergantian membacakan ayat suci Al-Qur’an. Ayah sangat senang melihatnya.
Kita semua juga bangga telah membuat ayah senang karena bagaimana pun juga ayah telah menjadi Nabi buat aku dan saudara-saudaraku. Maulid Nabi tahun ini begitu istimewa walaupun tanpa mama aku tetap sangat bersyukur karena ada ayah yang selalu ada. Bersyukurlah kamu yang masih mempunyai orangtua...

Senin, 24 November 2014

Puisi

      Sahabat menjadi Musuh


Tatkala hari menjadi suram
Bunga bersembunyi dibalik tangkai
Awan pun seolah marah
Pada dua insan yang berbeda
“Wahai sahabatku! Kenapa kau menghianatiku?!”
Lantang seseorang dengan tangan mencengkam
Tetesan air mata bercampur dengan embun
Berjatuhan bagai hujan turun ke bumi
Bulan yang dulu bersahabat dengan bintang
Matahari yang dulu selalu menyinari bumi
Angin yang berhembus dengan sejuk
Kini semua terasa musnah
Bulan menyendiri tanpa ada kilapan bintang
Matahari bersembunyi dunia pun tampak gelap
Angin tak terasa sejuk dalam pikiran
Dua insan itu pun kini tak dapat bersatu lagi...

Cerpen

Maafkan Aku Adik

          Entah kenapa aku tidak suka melihat adikku. Sudah pincang, dimanja lagi. Seperti siang ini sepulang sekolah aku sangat capek, tiba-tiba papa memanggilku dan juga Zahra iya Zahra, Zahra adalah nama adikku, dia terlahir tidak sempurna karena ketika mama mengandung Zahra, mama, aku dan juga papa mengalami kecelakaan. Aku juga sempat gagar otak ringan. Namun gara-gara itu Zahra tampak seperti sudah tua.
Aku dan Zahra mendekat ke papa. “adiknya ditungguin dong kak, didorong kek kursi rodanya eh malah ditinggal” papa dan mama selalu ngomel jika aku tidak baik dengan adik, tapi Zahra selalu cari tampang sok-sokan baik sama aku.
“Papa.. enggak pa-pa kok Pa, Zahra yang nggakmau didorong kan kakak kecapekan habis pulang sekolah” bela Zahra
“Zahra.. baiklah sayang. Ini ada boneka dan coklat buat kamu” kata papa
“Buat aku mana Pa?” sambungku
“Em.. oiya papa lupa belikan kakak. Nanti ya Ra kamu beli sendiri papa yang kasih uang”
“Heh! Papa lebih sayang Zahra ketimbang aku. Clara benci!” lalu aku segera menaiki loteng dan menuju kekamar, kututup pintu dengan kasar dan aku menangis diranjang.
“Kenapa sih semua berubah. Nggak kayak 10 tahun yang lalu sebelum sicacat itu lahir. Pa, ma, Clara juga pengen disayang” kataku dalam hati sambil menangis dikamar.
          Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarku “Kak..kak.. ini Zahra kak. Buka kak, kak.. kak.. kakak ini Zahra kak” dengan sangat kesal dan mencoba untuk tidak menangis aku membukakan pintu buat Zahra. “Apasih? Elo mau pamer boneka, coklat biar aku iri gitu. Heh nggak ya?!!! Sana pergi, aku ini capek lagian kok bisa sih kamu keatas sambil bawa tongkat. Gak takut jatuh?! Sana sana..ganggu aja”
“Maafin Zahra kak Clara. Ini boneka dan coklatnya buat kakak
J Zahra sudah....”
“Sudah punya banyak?!! Atau mau dibelikan lagi?!! Sini! Makasih coklat dan bonekanya!” aku sangat marah dan kuinjak-injak coklat dan boneksa Zahra
“Kak.. jangan diinjak-injak kak.. kakak” rengek Zahra sambil memunguti coklat dan boneka yang aku injak. “kakak.. jahat sekali dengan Zahra, Zahra itu berniat baik!”
“He he Clara hentikan!” teriak mama yang baru pulang kerja.
“Mama jangan marahin kakak ma” bela Zahra
“Halah.. nggakusah ngebelain gue deh lo munafik!!!” sambungku masih marah dan kesal
“Clara!” bentak mama, lalu menamparku
“Aduh sakit ma” rengekku
“Ada apa ini?” kata papa menyambung
“Ini Clara jahatin Zahra, padahal Zahra kan udah berniat baik pa. Naik loteng pake tongkat demi mau ngasihin coklat dan boneka eh malah diinjak-injak dengan Clara”
“Clara benar?!”
“Pa jangan pa.. kak Clara juga butuh perhatian kayak Zahra” Zahra tetap saja membelaku
“Sudahlah ma, kita biarkan saja Clara” kata papa mulai marah denganku
“Oke fine!!!!!!” jawabku sambil menangis dan menggobrak pintu kamarku.
Malam ini aku kesal sekali, aku segera mengambil ponselku lalu aku menelfon Devi sahabatku dan akhirnya Devi menjemputku lalu aku bermalam dirumahnya.
Paginya mama menelfon Devi, ternyata mama mencariku tapi aku tetap tidakmau pulang karena aku masih kesal.
Sepulang sekolah aku dan Devi berniat menjenguk Rosa dirumah sakit. Saat hendak akan pulang aku melihat Zahra adikku menaiki kursi roda, aku hanya diam saat melewatinya.
“Kak Clara?” panggilnya namun aku tetap diam dan langsung lari
“Clara? Kamu kenapa sih jahat banget sama adikmu?” tanya Devi menghentikan langkahku lalu menghampiriku.
“Aku kesel sama dia. Dia selalu dimanja oleh papa dan mama” jawabku sedih dan kesal
“Lihat adikmu itu. Berjalan saja dia tak mampu Ra, dia butuh kasih sayang lebih. Dia nggak senormal dan sesempurna anak-anak yang lain. Kamu malu punya adik yang pincang, tampak tua dan gundul?” jelas Devi namun aku hanya diam, tapi jujur aku masih kesal dengan Zahra yang slalu dimanja oleh mama dan papa.
Hari sudah larut malam namun aku tak bisa tidur, aku ingat dengan kata-kata Devi dirumah sakit tadi. Tanpa kusadari aku meneteskan airmata, aku sadar adikku memang tak sesempurna anak-anak lain. Padahal hanya karena waktu mengandung mama kecelakaan kenapa dia sudah tampak seperti orang tua sekarang?
“Clara? Belum tidur?” tanya Devi sambil meluap karena bangun dari tidurnya
“Aku nggak bisa tidur Dev” jawabku dan segera mengusap air mata
“Kamu nangis?” tanya Devi lalu dia mengajakku duduk disofa kamarnya
“Aku menyesal Dev, aku sudah lama menyia-nyiakan Zahra. Aku sudah sering menolak semua kebaikannya dan berpikir dia hanya cari muka denganku. Aku menyesal Dev, aku kakak yang jahat” aku mulai menangis histeris, Devi pun menangis. Setelah lama sekali curhat dengan Devi kita berdua tidur.
Pagi hari mama kerumah Devi untuk menjemputku.
“Mama mohon Clara, kamu pulang ya sayang? Adikmu mencarimu, dari kemarin dia tidak bisa tidur. Sekarang dia masuk rumah sakit” kata mama memohon sambil menitikkan air mata
“Iya ma. Maafkan Clara mama” kemudian aku segera ikut mama kerumah sakit
“Permisi Nak Devi. Terimakasih” kata mama pada Devi.
Sampai di Rumah Sakit aku segera menemui Zahra. Aku menangis, menyesal telah menyianyiakan Zahra adikku. Tak lama dokter masuk keruangan dimana Zahra dirawat
“Ibu dan bapak bisa ikut saya?” kata Dokter Faris
“Oh iya dokter” jawab papa.
“Clara kamu tungguin Zahra ya? Papa dan mama keruang dokter dulu” kata papa
“Iya papa, pa Clara minta tolong buat diizinin sekolah ya?” jawabku
“Iya sayang” jawab papa
Tak lama mama dan papa datang, lalu memelukku sambil menangis, akupun ikut menangis
“Ma.. pa.. kenapa? Zahra kenapa ma?”  aku merasa heran dan menangis
“Hiks.. Zahra menderita penyakit Sindrom Progeria, makanya dia tampak sudah tua dan gundul” jawab mama menangis tersedu, aku pun berlinang air mata. Kini aku merasa menjadi kakak yang terjahat terhadap adiknya.
“Iya, penderita penyakit Sindrom Progeria membuatnya yang baru berusia 10 tahun seperti sudah tua” sambung papa ikut menangis bersedih
“Hiks.. maafkan Clara pa ma, selama ini Clara sudah jahat dengan Zahra” sungguh aku sangat menyesal.
“Iya sayang tidak apa-apa, kalau saja mama ada diposisimu yang selalu saja dibiarkan dan tidak dimanjakan mama juga akan merasa kesal sekali. Maafkan mama dan juga papa”
“Iya ma”
“Kamu pulang sana gih bareng papa,mandi, sarapan lalu kesini lagi. Biar mama yang jagain Zahra” pinta mama kepadaku
“Iya mama, Clara pulang dulu. Ayo pa ayo” ajakku pada papa.
Sampai dirumah kulihat bi Siti membersihkan kamar Zahra, aku segera menghampiri Bi Siti. “Bi.. biar aku saja yang membersihkan kamar Zahra”
“Tidak usah Non, inikan sudah tugas bibi sebagai pembantu disini”
“Nggakpapa kok Bi.. please mau ya?”
“Baiklah non, kalau non memaksa”
“Terimakasih Bi” ketika membersihkan meja belajar Zahra aku menangis sejadi-jadinya. Aku melihat fotoku ketika aku mendapat juara pertama lomba pidato, foto tersebut dibingkai dengan kertas kado dan dihias. Foto itu bertuliskan “AKU INGIN SEPERTI KAKAK. YANG CANTIK PINTAR DAN JUGA BAIK”
Tiba-tiba papa masuk kekamar Zahra “Clara? Kok Clara menangis?” tanya papa
“Pa.. Clara sudah jahat Pa dengan adik. Clara kakak yang jahat pa, Clara jahat” kataku sambil menangis
“Sudahlah Clara, tidak kok. Buktinya Zahra menulis kamu cantik, pintar dan juga baik”
“Papa.. Clara menyesal pa? Maafkan Clara”
Tiba-tiba telfon rumah berbunyi, papa segera mengangkatnya dan aku mengikuti papa dibelakang. “Apa?” jawab papa seketika langsung menangis
“Papa.. kenapa pa? Papa”
“Sabar Clara.. hiks adik mu sudah tiada” kata papa, aku pun pinsan seketika.
Ketika sudah tersadar, aku sudah melihat jenazah Zahra diruang tamu, mama dan papa menangisi disampingnya. Aku segera menghampiri, aku menangis sejadi-jadinya, menyesal telah menyakiti Zahra.
“Sabar ya Ra?” kata teman-temanku mendekat. Tak lama jenazah Zahra dimakamkan, aku, mama dan juga papa mendoakan Zahra agar ditempatkan disisi Allah yang terbaik. Dan dimaafkan segala kesalahannya. Karena aku yakin Zahra adalah anak yang istimewa didunia ini, aku sungguh senang telah mendapat adik sepertinya dari Tuhan walaupun aku belum sempat membuatnya bahagia dan selalu menyakitinya. Maafkan aku Zahra..maafkan aku dik, kakak akan selalu mendoakanmu.




Cerpen

Hari yang teristimewa


Dengan sangat santai Deva turun dari loteng (tangga rumah) menuju keruang makan karena hendak akan makan malam. Deva tidak melihat adiknya Devi lalu dia bertanya kepada mamanya
“Loh ma? Devi mana?” tanya Deva lalu duduk
“Dikamar, lagi patah hati katanya” jawab mama
“Heleh gaya banget itu anak. Biar Deva panggilin ma” usul Deva
“Jangan nanti bertengkar” timpal mama
“Enggakkk” balas Deva
“Devaaaaa Devaaaa jangan Devaaa” teriak mamana tak didengarkan leh Deva dan tetap mengurungkan niatnya untuk menghampiri Devi dikamar.
Sampai didepan kamar Devi, Deva berpikir panjang untuk bagaimana caranya dia masuk kekamar Devi. “Kalau aku teriak atau ngomong dulu pasti dia nggakmau buka pintunya. Pfttttttt gimana ini?” keluh Deva dalam hati tak lama pintu kamar pun terbuka
“Ngapain kesini? Sana!” kata Devi sinis
“Hee! Siapa juga yang mau kesini, orang cuma mau lewat kok” jawab Deva mencari alasan.
“Yaudah pergi!” suruh Devi
“Ini mau pergi. Huh!” balas Deva membual, tanpa sengaja Deva menabrak tembok dan Devi menertawakannya.
“Ahahahaha ahahahaha peluk itu tembok!” ejek Devi
“Awas lu!” jawab Deva lalu pergi. Mereka berdua tidak pernah akur, selalu ada saja masalah yang dibesar-besarkan dan tidak ada yang mau mengalah.
Esok harinya Deva dan Devi segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah, dimeja makan pun mereka bertengkar
“Devaaa itukan punyaku” kata Devi ngambek karena roti kesukaannya dimakan kakaknya.
“Devi, jangan panggil kakakmu Deva. Panggil kakak” timpal mama
“Ya panggil kakak, Deva Deva” sambung Deva
“Biarin! Mana itu punyaku” kata Devi berteriak
“Masih banyakkan?” balas Deva mengejek
“Tapi aku nggak suka yang ini!!!” kata Devi
“Siapa cepat dia dapat” balas kakaknya mengejek menjulurkan lidahnya keluar mulut
“Aku benci kakak!” cletus Devi lalu bergegas meninggalkan ruang makan. Lagi-lagi mama dan papanya hanya bisa menghembuskan nafas panjang-panjang untuk menghadapi kedua anaknya yang selalu bertengkar itu.
“Biarin ma, paling juga balik lagi” kata Deva dan tak lama Devi kembali lagi ke ruang makan dengan wajah kusut dan tatapan sinis ke Deva
“Tuhkan, apa Deva bilang. Eeh balik lagi” seru Deva
“Ngambil tas gue!” kata Devi menatap kakaknya sinis
“Idihhh tikus besi marah” ejek Deva memanggil adiknya dengan sebutan Tikus Besi
“Devaaaaaaaa” tutur papanya lembut
“Hihhhhhhhhhhhhhh!!” sambung Devi mulai kesel
“Eh Devi sarapan dulu nak” teriak papanya
“Nggakmau. suruh aja kambing kampung ngabisin semua!!!” balas Devi langsung lari keluar rumah dan masuk mobil

Tak lama papa dan kakaknya pun masuk mobil, sementara Devi lagi enak-enakan makan roti.

“Oh sudah bawa roti” kata papa, Devi hanya mengangguk sambil menikmati roti kesukaannya, karena roti adalah makanan favoritnya. Devi selalu membawa beberapa roti dimana pun dia pergi. Terkadang pula jika dia keluar tas yang dibawanya kebanyakan hanya berisi roti.
“Ha? Makan roti lagi? Banyak banget, liat tasmu” kata Deva mencoba merebut tas Devi
“Sudahlah kak, jangan bikin ulah” lerai papanya yang duduk disebelah Deva dan fokus menyetir
“Ya kan cuma mau lihat pa” jawab Deva
“Nggakmau. tas tas gue, masbuloh?” sahut Devi
“Siniin!!” kata Deva merebut tas Devi yang duduk dibelakang papanya. Lalu membuka tas Devi dan benar, ternyata isinya roti, ada juga beberapa buku
“Ha? Ahahahaha sekolah bawaannya roti, tas cuma isi roti!” ejek Deva
“Hih sini. Ini kan privasi, lagian bukunya kan ditaruh loker sebagian” timpal Devi kesal sambil merebut tasnya lalu mendekap.
“Hah alasan!” balas Deva kembali menghadap kedepan
“Huhhhh! Aaaa nyam nyam” seru Devi kesal dengan kakaknya, seakan dia ingin memakan Deva layaknya roti.

Mereka berdua, satu sekolah yaitu di Sekolah Semesta Abadi. Di SA ini ada dua pendidikan yaitu SMP dan SMA. SMP sebagai junior dan SMA sebagai senior. Sampai disekolah sebelum turun mereka berdua pamit pada papanya lalu mencium tangan.

“Hati-hati jangan bertengkar” pesan papa, lalu segera melanjutkan perjalanan kekantor ketika Deva dan Devi sudah turun. Deva menemui teman-temannya yang sudah menunggunya dipos satpam.
“Heei boss” sapa salah satu teman Deva
“Hei bray” balas Deva sambil bersalaman persahabatan ala mereka
“Heleh, boss darimana?” kata Devi lirih melintas disamping mereka
“Heh heh sini sini. Apa kamu bilang?” timpal Deva, Devi pun berbalik badan dan berkata “Boss darimana? Kambing kampung aja dibilang boss”
“Boss dibilang kambing kampung ahahaha” kata Rama salah satu teman se geng Deva
“Diem lo!” timpal Deva kesal
“Sorry Va” balas Rama. Lalu mereka pergi kekelas.

Sementara itu, seusai ada bel berbunyi Devi pergi kekantin sendirian untuk menghampiri teman-temannya ada Vara, Ilu, Jery, dan juga Julio. Karena Devi selesai mengerjakan Ulangan susulan. 

“Hai” sapa Devi kepada teman-temannya
“Eh ? Hai?” balas semuanya
“Kok cemberut gitu? Gimana ulangannya?” tanya Jery
“Biasa, Deva! Luamayanlah” balas Devi lalu duduk dan meminum es jeruk milik Vara
“Devi itukan punya aku” rengek Vara
“Oiya hehehe pesan lagi ya? Aku yang bayarin” balas Devi nyengir
“Haduh, gue sampe nggak habis pikir, kenapa coba kalian berdua itu nggak pernah akur, damai gitu, selalu bertengkar” timpal Ilu
“Gimana bisa akur Ilu, kak Deva itu nyebelin banget. Huhuhuhuuu dia itu kakak terjahat. Nggakada sayang-sayangnya sama gue” jawab Devi sedih lalu cemberut
“Pasti ada, cuma kamu yang nggak ngerasa” timpal Julio
“Nggakada Jul, aku benci sama Deva” jawab Devi
“Kamu aja manggilnya Deva, kakak kek atau abang gitu” usul Julio
“Kakak? Ogah banget, yang aku tahu itu seorang kakak baik sama adiknya, nggak kayak Deva” jawab Devi kesal
“O jadi minta dibaikin?” kata Deva yang tiba-tiba datang se-geng nya
“Deva? Huh ngapain sih kesini, ganggu aja, sana sana!” jawab Devi
“Denger-denger ada yang pengen di sayang nih” kata Deva lagi menyindir adiknya.
“Hihhh udah ya? Aku males bertengkar disekolah, lagian kenapa sih kak kamu nggak pernah bikin aku nggak kesel gitu?!” tanya Devi mulai marah dan berdiri
“Akukan cuma tanya, ayo ikut aku” ajak Deva menarik tangan Devi
“Nggakmau!” jawab Devi menampik tangan kakaknya, Deva.
“Ayo dek” kata Deva tetap memaksa
“Nggakmau kak aaaaaa.....” jawab Devi lalu ditarik kakaknya meninggalkan kantin.

Sampai dikantin lantai dua Deva masih menarik Devi untuk mengajak masuk kekantin. Lalu mencari tempat duduk dan menyuruh Devi duduk.

“Haduh sakit tau!!!!!!!!” omel Dei sambil mengelus tangannya yang merah gara-gara ditarik kakaknya.
“Biarin!” jawab Deva
“Kakak jahat banget sih!” sambung Devi
“Diem! Diem disini, kakak mau pesen makan dulu. Diem ya, jangan pergi kemana-mana! Tetep stay disini. Please kali ini aja kamu turuti kakak” kata Deva
“Hm buruan. Disini AC mati apa? Panas banget” keluh Devi kesal.
“Ntar aku kipasin, ya lantai atas listriknya bermasalah, udah nggakusah bawel. Diem disini” suruh Deva pada adiknya
“Yaya kambing kampung” balas Devi sinis
“Huh sabar-sabar” kata Deva menghelai nafas panjang-panjang
“Iuh tumben sabar? Biasanya bales ngolokin tikus besi” timpal Devi heran
“Yaudah aku kesana dulu” kata Deva lalu pergi memesan makanan dan minuman.
Setelah itu, Deva datang membawakan dua es krim untuknya dan juga adiknya
“Ini, bubur ayamnya ntar dianter” kata Deva menyodorkan es krim untuk adiknya
“Eh kak? Kakak lagi demam ya?” tanya Devi lalu memegang jidat kakaknya “Nggak demam kok”
“Hmm dibaikin, disayang-sayang malah gitu. Yaudah aku pergi” gertak Deva
“Elehhh kambing kampung marah” goda Devi
“Berhenti ya ngolokin aku kambing kampung” balas Deva cemberut
“Opss iya, kan sudah baik” timpal Devi menggoda
“Iya adek” jawab Deva
“Makasih ya kak Deva” kata Devi
“Ya” jawab Deva
“Tumben akur?” tanya Loren pacar Deva yang tiba-tiba datang
“Eh Loren? Ya sekali sekali” jawab Deva tersenyum
“Uh!” cletus Devi cemberut sambil makan es krim
“Ahahaha kalau bisa setiap hari kayak gini kan enak dilihatnya” kata Loren
“Hehehe iya, oiya kamu mau es krim?” tanya Deva so sweet
“Nggakusah, habis ini aku ada latihan dance, 5 menit lagi dimulai” kata Loren menjelaskan
“O gitu. Mau aku anterin?” tanya Deva 
“Nggakusah Deva, kamu temenin adikmu aja, kan mumpung baikan” balas Lore
“Hehehe iya. Jangan lupa nanti sore ya?” kata Deva
“Sip boss” jawab Loren lalu pergi dan melambaikan tangan. Deva pun membalas melambaikan tangan kearah Loren, si kapten dance itu.
“Kak mana bubur ayamnya?” tanya Devi
“Iya habis ini paling juga dianter kemari. Sabar dong” jawab Deva lalu duduk dan kembali minum es krimnya. Tak lama bu Handoko datang membawakan dua mangkuk bubur ayam
“Ini ganteng, ini cantik” kata bu Handoko sambil meletakkan bubur ayam pesanan Deva untuk Deva dan Devi.
“Terimakasih” balas Deva dan Devi
“Ya sama-sama. Mari” kata bu Handoko. Dan mereka siap menyantap bubur ayam yang sangat lezat itu.
“Hemm?” kata Devi heran dengan rasa bubur ayam miliknya.
“Kenapa?” tanya Deva khawatir
“Rasanya aneh kak” kata Devi sambil mencoba mencicipi lagi
“Aneh gimana?” tanya Deva lalu mengambil sesendok bubur ayam Devi “Biasa aja kok” sambungnya
“Kayak ada apanya ya? Emmm” kata Devi terus berpikir sambil merasa-rasakan.
“Ada apanya?” tanya Deva
“Apa ya kak?” gumam Devi
“Nggaktau, ada apanya emang?” tanya Deva lagi dengan wajah cemas
“Haduh kok tanganku bentol-bentol gini?! Waaaa, kak, pasti ini ada kacangnya!” seru Devi
“Astaga! Iya kakak lupa, kamu kan alergi kacang” sahut Deva cemas
“Kakak gimana sih? Sengaja?!! Ohhhh aku tahu... pantes baik sama aku!” timpal Devi sambil menggaruk-nggaruk tubuhnya karena gatal-gatal.
“Eh kamu jangan asal nuduh, sumpah ya aku lupa kalau kamu alergi kacang. Yaudah ayo aku anterin ke UKS atau pulang gitu” usul Deva dengan cemas
“Nggakusah! Aku benci sama Deva!” kata Devi sambil menangis karena kecewa dengan kakaknya padahal Deva tidak berniat untuk menyakiti adiknya. Deva pun mengejar Devi dan meninggalkan bubur ayam itu.

Devi terus berlari menuju kelasnya, didepan kelas teman-temannya sedang duduk santai sambil mengobrol, bercanda tawa bersama.

“Devi kamu kenapa?” tanya Julio khawatir, Devi tidak langsung menjawab hanya menatap mereka satu per satu lalu masuk kelas mengambil tas dan keluar lagi.
“Dev kamu mau kemana?” tanya Vara dan Jery bersamaan
“Lihat! Ini, ini, ini lihat semuanya, ini semua ulah Deva! Udah tahu kalau aku alergi kacang, bubur ayamnya dikasih kacang” kata Devi sambil menunjukkan beberapa bentolan yang ada ditangan, kepala dan kakinya.
“Ya mungkin kak Deva nggak sengaja Dev, kamu posthink aja” seru Uli
“Mana ada kakak kek gitu. Masak iya dia nggaktau kalau aku alergi kacang, udahlah aku mau pulang. Aku benci Deva!” kata Devi
“Devi?” panggil Alex yang tiba-tiba datang
“Kamu ngapain lagi?! Aku mau balik” kata Devi lalu dia bergegas meninggalkan Alex dan teman-temannya
“Kamu kenapa?”  tanya Alex setengah berteriak
“Aku ikutttt” kata Uli dan juga Vara sambil berlari kecil mengejar Devi
“Ayo nganterin Devi” ajak Jery pada Julio
“Aku ikut” kata Jery lalu berlari
“Devi alergi kacang. Permisi” kata Julio lalu meninggalkan Alex didepan kelas 9A
“Devi cepat sembuh” teriak Alex

Sampai didepan sekolah Devi dibantu dengan teman-temannya mencari Bu Ninda, karyawan sekolah bagian keizinan.

“Arghhhhhh Bu Ninda mana? Gatallll” keluh Devi sembari meggaruk bagian tubuhnya yang merasa gatal
“Iya iya sabar Dev, bentar ya aku sama temen-temen yang nyari Bu Ninda. Duduk disini” suruh Uli, lalu mereka semua mencar.
“Devi” teriak seorang cowok, lalu Devi menoleh
“Haduh Alex..” gumamnya lirih
“Devi kamu kok sendiri yang lain mana?” tanya Alex
“Nyari Bu Ninda” jawab Devi
“Aku temenin ya?” tawar Alex lalu duduk disamping Devi.
“Serah” jawab Devi jutek
“Kamu marah ya?” tanya Alex
“Udah ya nggakusah nambah-nambahin, kalau mau nemenin diem!” balas Devi
“Okeee” sambung Alex menurut, sedikit kecewa dengan sifat Devi namun dia hanya menurut. Teman-teman Devi pun datang membawakan surat izin
“Devii aku dapat. Ini” teriak Vara sambil membawa selembar kertas berwarna hijau.
“Mana-mana?” jawab Devi sambil berdiri
“Nih, Bu Ninda lagi rapat kata beliau cepat sembuh buat kamu. Cepat tanda tangan disini” kata Vara memberikan kertas kepada Devi
“Thanks ya?” balas Devi
“Alex disini?” tanya Jery
“Ya! Ngikutin gue. Yasudah gue ke Pak Dapa dulu” sindir Devi sinis
“Iya, cepat sembuh Devi” balas teman-temannya
Get Well Soon My Best Friend” lanjut Julio
“Makasih makasih kalian baik sekali. Thank you so much, I Love You” kata Devi lalu berlari mencari Pak Dapa
"Love you too” jawab teman-temannya berteriak
“Love you too” cletus Alex lirih
“Cieh Alex, ada masalah apasih?” kata Uli
“Entah” jawab Alex lalu pergi
“Hmmm” gumam Uli, lalu mereka semua kembali kekelas
Sementara itu, Devi mencari Pak Dapa dilapangan belakang, ditaman, didekat pos satpam tapi tetap saja tidak ketemu. Devi pun bertanya kepada Pak Yato salah satu satpam disekolahnya.
“Permisi Pak Yato, tau Pak Dapa nggak?” tanya Devi sopan
“Waduh neng, Pak Dapa nya nganterin siswa senior kerumah sakit” jawab Pak Yato
“Barusan?” tanya Devi lagi
“15menit yang lalu sih neng. Kenapa neng itu bentol-bentol?” kata Pak Yato balik tanya
“Haduhhhhhh aaaarghhhhh. Alergi kacang pak” balas Devi menggaruk tangannya yang kegatalan.
“Haduhhh emmm mau diantar Pak Jhon tapi mobilnya kayak angkot neng, jarang yang mau” timpal Pak Yato pasti
“Ya pak nggakpapa. Mana-mana?” jawab Devi serentak
“Jhon antar ini” panggil Pak Yato kepada Pak Jhon yang sedang mengelap kaca depan mobilnya
“Siap boss” jawab Pak Jhon sambil hormat, lalu mendekat
“Mari neng, disana mobilnya” kata Pak Jhon
“Makasih ya Pak Yato, mari” sambung Devi sopan, dan permisi kepada Pak Yato
“Sama-sama neng, cepat sembuh” balas Pak Yato dan kembali bertugas

Sampai didepan rumah, Devi segera turun dari mobil itu tak lupa bilang terimakasih pada Pak Jhon yang telah mengantarnya.

“Sama-sama neng. Cepat sembuh” jawab Pak Jhon
“Iya pak, mari” kata Devi, lalu seorang satpam membukakan pagar rumahnya dan dia masuk
“Maaaaaa mamaaaaa aku benci Deva ma! Mama mama mama” teriak Devi setelah melempar tas dan sepatu lalu duduk disofa ruang tamu sambil garuk-garuk.
“Hei kamu kenapa sayang? Ihhhh kok bentol-bentol?” tanya mama mendekat
“Ini gara-gara Deva. Aku dikasih kacang, dia nggaktau apa kalau aku alergi kacang” jelas Devi
“Kamu yakin kakakmu sengaja?” tanya mama
“Yakin ma dia itu sok baik, sok care sama aku” jawab Devi kesal
“Ya jangan suudzon dulu. Barangkali kakakmu nggak sengaja atau lupa gitu” timpal mama
“Mama selalu aja belain Deva!” kata Devi marah lalu berdiri
“Heh jangan ngambek dong Devi. Yasudah dikamar aja ya? Mama telfonin dokter Isan” balas mamanya
“Aku nggakmau ma, dokter Isan obatnya pahit” kata Devi menolak
“Dokter Irfan ya? Dokter kulit langganan mama itu, nggak obat kok paling juga salep” saran mamanya
“Ya serah, pokoknya nggakmau obat. Daaaaa ma” balas Devi lalu naik ke loteng menuju kamarnya
“Iya, GWS” teriak mamanya.

Pukul 14.00 Deva pun datang, kebetulan sekali Dokter Irfan juga datang, Deva pun bertanya pada Dokter

“Dokter Irfan?” sapa Deva dengan sopan
“Nak Deva ya? Wah, sudah gedhe. Kelas berapa?” tanya Dokter Irfan ramah
“Kelas XI dok, mari” kata Deva, lalu dokter Irfan pun melangkah masuk
“Deva, papa balik dulu ya? Kasih tahu ke mama, papa pulang habis isya ada meeting” kata papa yang masih menaiki mobil
“Siap pa, hati-hati” kata Deva melambaikan tangan, dan Pak Toto satpam dirumah tersebut pun menutup pagar. Lalu Deva masuk kerumah
“Ma aku nggak sengaja ma, aku beneran lupa kalau adik alergi kacang” jelas Deva yang sedang duduk sambil melepas sepatunya
“Ya mama tahu, yasudah ganti baju sana” suruh mamanya
“Ya ma, oiya papa pulang habis isya’ ada meeting” kata Deva melemas
“Iya” jawab mama singkat.
Semenjak kejadian itu Devi menjadi sangat sinis dan lebih benci dengan kakaknya. Deva mencoba untuk menjelaskan tapi tetap saja Devi tidak mau mendengar penjelasan kakaknya. Sudah dua hari ini Deva dan Devi tidak saling bicara dan menyapa meski mereka sedang kumpul bersama seperti makan, nonton tv dan lainnya. Seperti saat ini ketika sedang menonton tv bersama diruang tengah

“Ma yang tadi aja” seru Devi yang duduk dibawah mamanya dan bersandar di kaki mamanya dengan manja, lalu duduk disamping mamanya.
“Itu aja ma” sahut Deva yang sedang asyik bermain games diponselnya
“Yaudah ma, aku mau lihat dikamar” cletus Devi, lalu pergi
“Aku juga” sambung Deva
“Haduhhh kalian jangan bertengkar mulu dong sayang, kayak anak kecil tauk” teriak mamanya
“Terserah mama” jawab Devi dan Deva lalu beranjak menaiki loteng diikuti dengan Deva
“Deva, Devi” sambung papanya dengan flat
“Papa, mama udah ya? Devi mau kekamar, besok pokoknya aku mau masuk sekolah lagi. Berangkatnya naik taksi!” kata Devi menghentikan langkahnya lalu menghadap kebawah
“Loh kenapa?” jawab mamanya
“Bisa bisa aku entar alergi kacang lagi kalau deket deket” kata Devi sinis
“Siapa?” tanya mamanya lagi
“Entah” jawab Devi, lalu berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu. Mama dan papanya hanya bisa menghela nafas panjang-panjang melihat Deva dan Devi yang tak pernah akur.

Devi tidur siang dengan pulasnya karena sudah merasa membaik keadaannya, dan bentolannya pun satu per satu sudah mulai pudar. Bel rumah pun berbunyi, Pak Toto segera membukakan pagar untuk tamu lalu para tamu memencat bel tombol disamping pintu, pintu pun terbuka.

“Siapa ya neng?” tanya Bi Sri
“Saya Uli, ini Vara, yang ini Jery dan ini Julio. Kita semua teman sekelas Devi bi” terang Uli
“O begitu. Monggo silahkan masuk!” kata Bi Sri
“Ya terimakasih” jawab mereka bersamaan.
“Duduk sini, saya panggilkan non Devi dulu” suruh Bi Sri, lalu menutup pintu dan pergi kelantai atas
“Iya” jawab mereka bersamaan.
Bi Sri pun pergi kekamar Devi, ketika hendak akan mengetuk pintu Deva kebetulan melintas dan menghampiri Bi Sri
“Eh bibi bi jangan!” larang Deva mendekati bi Sri
“E copot copot jangan jangan. Haduh den Deva mengagetkan bibi saja. Kenapa? Konaon?” tanya Bi Sri, Bi Sri memang agak latah orangnya jadi kesannya lucu. Hehehe ..
“Hehehe bi Sri lucu, latah gak jelas. Emm kayaknya adik masih tidur” kata Deva
“Tapi ada teman-temannya den, nunggu dibawah”  jelas Bi Sri
“Yasudah bibi buatin makanan dan minuman biar Deva yang ngajak ngobrol teman-temannya adik dulu” kata Deva dan Bi Sri mengangguk mengiyakan lalu pergi kedapur sesuai perintah Deva, membuat minuman dan makanan untuk teman-teman Devi

Deva pun menuruni loteng dan pergi keruang tamu untuk menemui teman-teman Devi. Mereka tampak seru saling bercerita sampai sampai Deva tidak tega kalau harus mengganggu mereka. Tapi Deva berpikir kalau mereka tidak dilayani itu sangat tidak sopan karena bagaimanapun tamu adalah Raja.

“Permisi” kata Deva  sambil tersenyum lalu duduk disamping Julio.
“Eh kak Deva?” balas Uli
“Devi nya masih tidur. Nggak tega kalau harus dibangunin” terang Deva
“Kak Deva baik ya ternyata. Peduli” sahut Vara
“Biasa aja. Itu menurut kamu, beda dengan pemikirannya Devi” kata Deva
“Sabar ya kak” timpal Jery
“Always” balas Deva singkat
“Oiya, ngomong-ngomong kapan Devi mulai masuk sekolah?” tanya Julio
“Mungkin besok atau lusa. Bentolannya juga sudah lumayan hilang” balas Deva
“Pasti kak Deva dan Devi bertengkar ya?” tanya Uli
“Ya kalian sendiri tahu kan?” kata Deva balik tanya
“Kenapa sih kak Deva dan Devi selalu bertengkar?” tanya Vara heran
“Ceritanya panjang” jawab Deva
“Ceritaaaaaaaaa dong. Please, Vara mohon” kata Vara lalu Deva mulai cerita
“Oke, ceritanya itu dulu waktu aku SD kelas 6 kan mendekati UASBN, Devi masih kelas 5 saat itu. Nah, aku sakit cacar air seminggu lebih aku nggak masuk sekolah. Dari situ, Devi merasa nggak dipeduliin sama mama dan papa, karena beliau sibuk merawat aku ya soalnya mama dan papa takut kalau aku nggakbisa ikut UASBN , tiap saat mama dan papa mengantarku ke dokter inilah itulah, beli inilah itulah, pokoknya mereka berusaha supaya aku sembuh. Sampai sampai beliau tidak ada waktu buat Devi padahal Devi juga selalu ada bimbel tapi selama aku sakit dia harus libur bimbel soalnya nggakada yang nganter. Selama aku sakit aku jarang sekali keluar kamar, jadi nggakbisa main sama Devi, jalan-jalan, makan bareng pokoknya dulu itu kita berdua akrab sekali. Setelah aku sembuh, aku ngajakin Devi jalan-jalan tapi dia nolak lalu dia nangis. Ditanya mama dan papa nggak jawab, dia ngurung diri dikamar. Mama dan papa pun bingung, lalu malam harinya dia kabur dari rumah, dia nginep dirumahnya Pak Somad, Pak RT disini. Pak Somad pun bilang ke papa nggakusah khawatir karena Devi ada dirumahnya. 5 hari dia nggakmau pulang, akhirnya dibujuk bujuk terus dan dia mau pulang tapi ada syaratnya. Dia nggakmau deket deket aku lagi. Gitu”
“Aduhhh huhuhu sabar ya kak Deva” kata Vara menenangkan, Deva menitikkan airmata dia merasa bersalah dengan adiknya.
“Tapi... biasanya kak Deva juga jail dan jahat gitu sama Devi?” timpal Jery
“Ya aku juga bosen disinisin, digalakin juga. Yasudah aku juga bales gitu. Tapi sebenarnya dilubuk hati yang paling dalam aku sayang dengan adikku. Aku kangen banget masa masa dulu” jelas Deva mengusap airmanya “Kok kalian ikut nangis?” lanjut Deva tertawa kecil
“Terharu” jawab mereka semua
“Waaahh kak Deva aslinya baik ya?” timpal Uli
“Biasa aja” jawab Deva
“So sweet. Kak Deva maukan jadi kakak Vara?” kata Vara mulai lebay
“Hehehe kalau itu NO. Cukup jadi kakak nya Devi aja” balas Deva tersenyum
“Seandainya kak Tobing kayak kak Deva” kata Vara
“Tobing baik kok” timpal Deva
“Ya, kalau sama teman-temannya doang. Apalagi sama pacarnya” jawab Vara
“Kasihan” kata Uli, Jery dan juga Julio. Vara hanya cemberut dan Deva pun tertawa melihat Vara. Tiba-tiba dari balik tembok Devi pun datang menghampiri mereka
“Devi?” kata mereka semua
“Kak Deva” kata Devi, memeluk kakaknya sambil menangis terisak-isak.
“Kamu kenapa?” tanya Deva masih memeluk adiknya.
“Kak Deva maafin Devi ya? Devi sudah tahu semuanya, sebenarnya kak Deva sayang kan sama Devi. Devi terlalu egois kak, Devi minta maaf”kata Devi masih menangis. Lalu Deva melepaskan pelukannya dan berkata “Hahaha ge-er siapa juga yang sayang sama kamu. Ih ge-er banget”
“Ha?” teriak teman-teman Devi serempak
“Kak Deva kok gitu?” timpal Devi cemberut
“Bercanda. Hahaha iyaiya kakak maafin kok, ya kakak juga akan marah sekali kalau saja waktu itu ada diposisi kamu. Udah nggakusah nangis, jelek” kata Deva
“Ciehhhhhh baikan” teriak teman-temannya. Mama dan papa pun datang dari kantor bersamaan.
“Loh? Devi? itu loh ada temanmu. Kok nggak disuruh masuk?” kata mama
“Siapa ma?” tanya Devi mengernyitkan alis mata
“Cowok dan cewek” jawab mama
“Ha? Jangan-jangan Alex. Tapi dia sama siapa?” renung Devi
“Jangan-jangan itu Loren kan sore ini aku mau nge-date sama dia” timpal Deva
“Ya mama nggaktau. Ya kan pa tadi cowok dan cewek?” kata mama bertanya kepada papa yang hendak akan menaiki loteng
“Ya ma” jawab papa menoleh
“Yaudah dek, ayo kita temui” ajak Deva menarik tangan Devi
“Iya kak ayo” kata Devi
“Eh eh kok tumben? Kalian demam ya? Atau mama cuma mimpi” tanya mamanya heran, lalu mencubit tangannya sendiri “aow” Deva dan Devi pun tertawa.
“Enggak tante, sini te duduk biar kita yang ceritain. Kalian berdua temui sana” timpal Uli sambil berdiri
“Ya. Temui your darling masing-masing” sambung Julio
“Okeeeee” jawab Deva lalu tertawa, Devi pun ikut tertawa lalu keluar.

Sementara itu, mama Deva merasa sangat senang karena melihat kedua anaknya akur kembali seperti dulu. Segera mama Deva memberitahukan kepada suaminya. Pak Randy.

“Tante kekamar dulu ya? Selesai mandi dan bersih-bersih diri. Kita bersama masak. Mau?” kata mama dengan ceria dan semangat
“Mau!!!!!!” jawab semuanya senang
“Oke. Wait and stay in here” kata mama menggunakan bahasa inggrisnya
“Fine!!”
jawab semua serempak dengan semangat.
Dilain itu, Deva dan Devi menemui teman dekatnya masing-masing. Rupanya ada Loren dan Alex sedang menunggu mereka didekat pagar rumahnya.
“Alex?” teriak Devi masih dari kejauhan
“Loren?” panggil Deva mendatangi Loren, dan Alex pun menghampiri Devi menaiki motornya, berhenti tepat didepan Devi lalu turun dari motornya dan melepas helmnya.
“Sore Devi” sapa Alex tersenyum
“Sore Alex” balas Devi malu
“Sudah sembuh?” tanya Alex
“Sudah” balas Devi
“Kedalam yuk, ada teman-teman aku” kata Devi
“Sini aja dulu” jawab Alex
“Yasudah ayo duduk disana” kata Devi menunjuk ke aah kursi ditaman depan rumahnya
“Kamu masih marah nggak?” tanya Alex
“Kalau aku marah, aku nggak mungkin ada disini sama kamu. duduk berdua lagi” jawab Devi
“Jangan marah lagi ya? Waktu itu kan nggak sengaja, lagian cewek norak sok cantik itu kok yang gandeng aku terus waktu kamu lewat dia meluk aku. Aneh kan?” kata Alex
“Udah nggakusah bahas. Atau aku marah lagi” jawab Devi dengan sinis
“Eh eh jangan dong” kata Alex cemas dan Devi pun tertawa
“Masuk yuk, ini taman rumputnya udah mulai panjang jadi gatal kalau kena kaki. Yuk yuk ayooo masuk” ajak Devi memaksa.
“Gandeng” goda Alex
“No”  balas Devi lalu menjulurkan lidahnya
“Iya iya. Uh” kata Alex lalu berdiri dan mencubit hidung Devi.
“Kak Deva! Masuk yok” teriak Devi
“Sebentar” jawab Deva
“Ayokkk kak, kasihan kak Lorennya berdiri mulu entar capek” kata Devi
“Kalau sama kakak gak akan capek kok” jawab Deva mulai ngegombal
“Kak Loren, kak Deva suka ngegombal ya?” tanya Devi pada kak Loren
“Iya banget” jawab Kak Loren
“Hahahaha jangan percaya sama kambing kampung. Ayo masuk” ajak Devi mengejek Deva
“Iya iya tikus besi yang bawel” balas Deva lalu menjulurkan lidahnya dan Devi pun membalas lalu tertawa
“Ayo” kata Alex menggandeng tangan Devi lalu masuk
“Ha?” kata Devi bengong.

Mereka berdua pun ngumpul bersama dengan Uli, Vara, Jery dan juga Julio diruang tengah. Tampak sangat akrab sekali, mama dan papa pun senang melihat mereka. Mama mengajak mereka untuk masak bersama dengan semangat mereka mengatak IYA. Dibantu dengan Bi Sri mereka saling bantu membantu. Deva dan Loren menghampiri didapur. 

“Eh tikus besi lagi masak” goda Deva
“Kak? Nanti bertengkar” kata mama dengan sabar
“Enggak kok ma, biarin kambing kampung kan emang gitu” timpal Devi yang sibuk memotong wortel dengan Alex dan juga Vara.
“Nak Loren ya?” kata mama
“Iya tante” jawab Loren mendekat
“Wah makin cantik” puji mama
“Makasih tante” jawab Loren lalu membantu mama menggoreng kerupuk ikan.
“Iyalah ma, siapa dulu pacarnya. Devaa” kata Deva merangkul mamanya dari belakang.
“Yang dipuji itu Loren bukan kamu Deva. Jadi nggak ngaruh ya?” balas mama mengelus kepala Deva yang bersandar dipundaknya.
“Mama gitu...” kata Deva cemberut semuanya pun tertawa “Hahahahahahahahaaaaaa”

Selesai memasak, mereka menghidangkan makanan dan minuman diruang makan. Tampak sangat bersemangat dan kompak sekali. Menata disini dan disana, meletakkan itu dan ini. Mereka mengerjakan bersama-sama, papa pun turun tangan karena melihat suasana diruang makan sangat menyenangkan. Selesai itu mereka makan bersama, pak satpam dan Bi Sri pun diajak juga.

Hingga malam hari mereka masih berkumpul dirumah Deva dan Devi. sholat berjama’ah saling berbagi cerita dan lain-lain. Hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan, kalau menurut Cherrybelle “ISTIMEWA” ya hari itu sangat istimewa....





~END~

Wavy Tail

Template by:

Free Blog Templates