Senin, 01 Desember 2014

Cerpen

Ayahku Nabiku


Pagi hari yang sangat cerah  menghangatkan suasana rumahku yang berada di ujung kanan perumahan Permai Tuban. Aku tinggal bersama ayah, kakak-kakakku dan adikku karena sudah lama mama meninggalkan kita semua karena terserang penyakit kanker otak saat itu aku baru berusia 7 tahun dan adikku Bibil baru berusia 2 tahun. Aku memang masih anak-anak saat itu namun aku merasa telah kehilangan satu sayapku . Tapi ayah selalu membuat kita semua merasa nyaman dan bahagia walaupun agak sedikit protective.
Hari ini hari minggu, ayah mengajak kita semua untuk bergotong royong membersihkan rumah.
Masing-masing harus membersihkan kamarnya sendiri setelah itu membantu ayah membersihkan seisi rumah dan halaman.
“Raya ambilkan sekop digudang, kuncinya tanya Bi Sri” teriak ayah dari halaman belakang kepada Kak Raya, kakak pertamaku.
“Iya ayah” balas kakakku lalu masuk kedalam rumah.
“Ayah kak Asdha dan Kak Tara jailin Bibil!!!!!” teriak adikku, aku dan Kak Asdha memang suka sekali mengusili Bibil karena Bibil suka nangis kalau diusilin.
“Sini nak. Ayahkan sudah ngasih tau kalau di usilin jangan nangis nanti kamu di usilin terus sama kak Asdha dan Kak Tara” tegur ayah sambil menghentikan memotong rumput
“Huhuhu Bibil ditakut-takutin belalang yah” rengek Bibil sangat menggemaskan.
“Yasudah Bibil duduk disini saja ya?” kata ayah, lalu melanjutkan memotong rumput. Aku dan Kak Asdha hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat Bibil merengek.
Selesai kerja bakti membersihkan rumah, aku segera mandi lalu makan bersama. Masakan Bi Sri rasanya lumayan sama dengan masakan mama dulu, maka dari itu aku, Kak Raya dan Kak Asdha serta Bibil tidak terlalu suka jika ayah mengajak kita makan diluar.
“Selamat makan anak-anak ayah” itulah yang selalu dikatakan oleh ayah ketika makan bersama.
Pagi ini tidak seperti pagi kemarin, suasana dirumah sangat ramai karena persiapan berangkat  sekolah. Masing-masing sangat sibuk dengan ini, itu, cari inilah, cari itulah. Setelah sarapan kita semua termasuk ayah langsung bergegas pergi untuk menuntut ilmu. Dimobil sangatlah ramai dan seru, yang paling bikin seru adalah mengusili Bibil.
Pertama ayah mengantar Kak Raya dan Kak Asdha disebuah SMA terfavorit di Tuban yaitu SMA 2 Genius. Lalu mengantarku di SMPN 3 Tuban dan ayah melanjutkan perjalanannya menuju kantor sekaligus mengantar Bibil karena kantor dan sekolah Bibil jaraknya sangat dekat.
Dikelas tidak ada pelajaran karena memperingati Maulid Nabi para siswa pun mengikuti lomba-lomba yang diadakan oleh OSIS. Termasuk aku, aku mengikuti lomba baca tulis Al-Qur’an bersama teman-temanku  ada Ulia, Andin dan juga Lisyi untuk mewakili kelas 9G. Hari itu sangat seru, selesai mengikuti lomba baca tulis Al-Qur’an aku dan temanku menonton pertandingan futsal. Semua bersorak-sorak gembira ketika Cesar teman sekelasku berhasil membobol gawang lawan. Pertandingan semakin seru dan cuaca menjadi semakin panas.
Pengumuman pemenang keseluruhan lomba pun dibacakan. Aku sangat degdeg-an menunggunya. Tapi aku yakin dengan kekompakan tadi aku bisa mendapat juara walaupun tidak juara pertama.
“Juara pertama lomba pidato jatuh kepada kelas 8D...” pengumuman perlombaan sangat membuatku cemas. Ketua Osis pun terus mengumumkan juara perlombaan tersebut hingga akhirnya
“Juara pertama lomba BTQ atau Baca Tulis Qur’an jatuh kepada kelas sembilan.............. C...... eh maaf salah sebentar” kata ketua Osis lalu mencoba mengecek karena ada kekeliruan dalam menulis kelas.
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” teriak semuanya mengejek
“Maaf. Oke saya akan mengulang. Juara pertama lomba BTQ atau Baca Tulis Qur’an jatuh kepada kelas ...9G”
“Yeeeeeeeeeeeee” teriakku serta teman-teman sekelasku. Aku merasa sangat senang bisa menjadi juara pertama dan itu juga karena kekompakan kita bersama.
Pukul 14.00 ayah menjemputku, dimobil aku menceritakan semua kepada ayah dan ayah sangat senang mendengarnya tapi tidak dengan Bibil....
“Cuma gitu aja sudah bangga........” ejek Bibil dan aku mulai kesal dengan Bibil lalu mencubit kedua pipinya yang seperti bakpao. Taklama Bibil pun menangis kesakitan.
“Ya Allah Kak Tara nggakboleh kasar-kasar dengan Bibil. Ayo minta maaf” suruh ayah dan aku meminta maaf kepada Bibil lalu Bibil menggigit jariku.
“Haduh.. ih jorok. Bibilllll” mendengar aku merengek kesakitan ayah dan Bibil tertawa geli.
Diperjalanan menuju sekolah Kak Raya dan Kak Tara aku hanya diam saja mendengar Bibil meminta maaf kepadaku.
Beberapa menit menunggu akhirnya Kak Raya dan Kak Asdha muncul dan mereka berdua segera masuk mobil tak lupa juga bersalaman dengan ayah.
“Kenapa nih? Kok cemberut?” tanya Kak Raya kepadaku
“Tauk” jawabku singkat. Ayah menceritakan semuanya kepada Kak Raya dan Kak Asdha.
“Oh jadi gara-gara pipi bakpao ini. Rasain iniiii” Kak Asdha mengeluarkan gantungan kunci yang menyerupai belalang pemberian dari Paman. Bibil pun menjerit ketakutan
Dan seperti biasa Kak Raya selalu cuek dan sibuk dengan ponselnya. Kak Raya memang paling cuek diantara kita berempat tapi Kak Raya peduli kepada kita dan terkadang membosankan.
Sampai dirumah, selesai ganti baju serta mencuci tangan dan kaki aku menuju  ruang makan, diruang makan aku baru menemui ayah, Kak Asdha dan juga Bibil lalu dimanakah Kak Raya?
“Sore semua... loh ayah, Kak Raya dimana?” tanyaku lalu meneguk segelas air putih.
“Katanya kurang enak badan” jawab ayah sambil sibuk mengambilkan nasi buat Bibil.
“Ooo gitu” jawabku
“Selamat makan anak-anak” seru ayah dan semua mulai makan.
Seusai makan kak Asdha mengajakku kekamar Kak Raya, dan kutemui Kak Raya hanya berbaring diatas ranjang.
“Kak Raya kenapa?” tanya Kak Asdha lalu kak Raya duduk
“Aku putus sama Ivon Dha” kata kak Raya sambil menangis, ya biasalah anak muda patah hati langsung galau dan tidak nafsu makan.
“Ha? Kakak pacaran?!?” teriakku terkejut karena ayah paling melarang kita untuk berpacaran.
“Hustttttttttt!” cletus Kak Asdha membungkam mulutku dengan erat.
“Tara diam! Jangan sampai ayah tau” timpal Kak Raya.
“Ops maaf. Ivon itu siapa kak?” tanyaku lagi
“Kak Ivon itu kapten basket disekolahku. Dia baik, cool wah pokoknya sipdeh dik” jelas Kak Asdha
“Emang kelas berapa kak?” cletusku
“Teman sekelas Kak Raya. Deket juga dengan kelas X-A, kelasku” terang Kak Asdha dan aku menggangguk mengerti. Tiba-tiba ayah datang kekamar Kak Raya.
“Raya... gimana Nak? Sudah membaik. Kalau sudah selesai mandi kita sholat jama’ah Ashar” kata Ayah
“Sudah kok yah, iya ayah” jawab Kak Raya.
“Asdha , Tara mandi dulu nanti kita sholat jama’ah!” suruh ayah , aku dan Kak Asdha pun menurut.
Malam harinya selesai sholat Isya’ jama’ah ayah menyarankan gagasannya yaitu...
“Anak-anak besok ayah mengundang para anak panti untuk datang kemari memperingati maulid Nabi SAW. Jadi ayah berharap kalian ikut serta dalam acara tersebut. Mengaji, berceramah atau terserah yang kalian bisa”
“Siap ayah” jawab kita serempak bersamaan.
“Yascudah hari sudah malam, kalian harus tidur karena besok sekolah” sambung beliau lalu kita semua pergi kekamar masing-masing dan tidur.
Keesokan harinya sepulang sekolah banyak mobil catering makanan dihalaman rumahku. Banyak orang yang sibuk, menata ini dan itu. Meletakkan disini dan disana
Selesai sholat Ashar aku dan ketiga saudara ku menemui ayah dikamar.
“Ayah?” panggil Bibil manja
“Eh kalian. Ada apa?” jawab ayah
“Ayah rindu mama ya yah?” tanyaku
“Iya. Ayah masih ingat sewaktu kamu berusia 5 tahun mamamu selalu mengajak para anak panti untuk mengadakan maulid Nabi dirumah ini. Dan mamamu yang mengaji untuk kita semua, suaranya begitu merdu dan indah membuat hati tentram” jelas ayah sambil menitikkan airmata. Aku dan ketiga saudaraku ikut menangis lalu memeluk ayah.
“Ayah....... ayah selalu ada buat kita semua. ayah selalu membuat kita merasa nyaman, bahagia dan rukun. Ayah selalu mengingatkan kita sholat, belajar, makan dan lainnya. Ayah adalah nabi kita semua. Kita sayang ayah” kataku
“Iya ayah.. ayah adalah nabi bagiku. Ayah selalu ada buatku dan adik-adik, Raya sayang ayah” sambung Kak Raya
“Asdha juga ayah... Asdha sayang ayah” kata Kak Asdha. Dan kulihat ayah tersenyum lalu mendekap kita semua dengan kasih sayang. Lalu aku bertanya kepada Bibil “Bibil nggak sayang ayah?”
“Sayang kok, sayang bingit malah” jawabnya tetap memeluk ayah
“Bibil alayyyyyy” jawabku dan kakak bersamaan lalu kita tertawa, ayah pun ikut tertawa.

Para tamu sudah datang, aku, ayah, Kak Raya, Kak Asdha dan Bibil menemui mereka semua. Ditengah acara Kak Raya dan Bibil bergantian ceramah disambung dengan ketua panti asuhan , lalu aku dan Kak Asdha bergantian membacakan ayat suci Al-Qur’an. Ayah sangat senang melihatnya.
Kita semua juga bangga telah membuat ayah senang karena bagaimana pun juga ayah telah menjadi Nabi buat aku dan saudara-saudaraku. Maulid Nabi tahun ini begitu istimewa walaupun tanpa mama aku tetap sangat bersyukur karena ada ayah yang selalu ada. Bersyukurlah kamu yang masih mempunyai orangtua...

0 komentar:

Posting Komentar

Wavy Tail

Template by:

Free Blog Templates