Maafkan Aku Adik
Entah kenapa aku tidak
suka melihat adikku. Sudah pincang, dimanja lagi. Seperti siang ini sepulang
sekolah aku sangat capek, tiba-tiba papa memanggilku dan juga Zahra iya Zahra,
Zahra adalah nama adikku, dia terlahir tidak sempurna karena ketika mama
mengandung Zahra, mama, aku dan juga papa mengalami kecelakaan. Aku juga sempat
gagar otak ringan. Namun gara-gara itu Zahra tampak seperti sudah tua.
Aku dan Zahra mendekat ke papa. “adiknya ditungguin dong kak, didorong kek kursi rodanya eh malah ditinggal” papa dan mama selalu ngomel jika aku tidak baik dengan adik, tapi Zahra selalu cari tampang sok-sokan baik sama aku.
“Papa.. enggak pa-pa kok Pa, Zahra yang nggakmau didorong kan kakak kecapekan habis pulang sekolah” bela Zahra
“Zahra.. baiklah sayang. Ini ada boneka dan coklat buat kamu” kata papa
“Buat aku mana Pa?” sambungku
“Em.. oiya papa lupa belikan kakak. Nanti ya Ra kamu beli sendiri papa yang kasih uang”
“Heh! Papa lebih sayang Zahra ketimbang aku. Clara benci!” lalu aku segera menaiki loteng dan menuju kekamar, kututup pintu dengan kasar dan aku menangis diranjang.
“Kenapa sih semua berubah. Nggak kayak 10 tahun yang lalu sebelum sicacat itu lahir. Pa, ma, Clara juga pengen disayang” kataku dalam hati sambil menangis dikamar.
Aku dan Zahra mendekat ke papa. “adiknya ditungguin dong kak, didorong kek kursi rodanya eh malah ditinggal” papa dan mama selalu ngomel jika aku tidak baik dengan adik, tapi Zahra selalu cari tampang sok-sokan baik sama aku.
“Papa.. enggak pa-pa kok Pa, Zahra yang nggakmau didorong kan kakak kecapekan habis pulang sekolah” bela Zahra
“Zahra.. baiklah sayang. Ini ada boneka dan coklat buat kamu” kata papa
“Buat aku mana Pa?” sambungku
“Em.. oiya papa lupa belikan kakak. Nanti ya Ra kamu beli sendiri papa yang kasih uang”
“Heh! Papa lebih sayang Zahra ketimbang aku. Clara benci!” lalu aku segera menaiki loteng dan menuju kekamar, kututup pintu dengan kasar dan aku menangis diranjang.
“Kenapa sih semua berubah. Nggak kayak 10 tahun yang lalu sebelum sicacat itu lahir. Pa, ma, Clara juga pengen disayang” kataku dalam hati sambil menangis dikamar.
Tak lama ada
yang mengetuk pintu kamarku “Kak..kak.. ini Zahra kak. Buka kak, kak.. kak..
kakak ini Zahra kak” dengan sangat kesal dan mencoba untuk tidak menangis aku
membukakan pintu buat Zahra. “Apasih? Elo mau pamer boneka, coklat biar aku iri
gitu. Heh nggak ya?!!! Sana pergi, aku ini capek lagian kok bisa sih kamu
keatas sambil bawa tongkat. Gak takut jatuh?! Sana sana..ganggu aja”
“Maafin Zahra kak Clara. Ini boneka dan coklatnya buat kakak J Zahra sudah....”
“Sudah punya banyak?!! Atau mau dibelikan lagi?!! Sini! Makasih coklat dan bonekanya!” aku sangat marah dan kuinjak-injak coklat dan boneksa Zahra
“Kak.. jangan diinjak-injak kak.. kakak” rengek Zahra sambil memunguti coklat dan boneka yang aku injak. “kakak.. jahat sekali dengan Zahra, Zahra itu berniat baik!”
“He he Clara hentikan!” teriak mama yang baru pulang kerja.
“Mama jangan marahin kakak ma” bela Zahra
“Halah.. nggakusah ngebelain gue deh lo munafik!!!” sambungku masih marah dan kesal
“Clara!” bentak mama, lalu menamparku
“Aduh sakit ma” rengekku
“Ada apa ini?” kata papa menyambung
“Ini Clara jahatin Zahra, padahal Zahra kan udah berniat baik pa. Naik loteng pake tongkat demi mau ngasihin coklat dan boneka eh malah diinjak-injak dengan Clara”
“Clara benar?!”
“Pa jangan pa.. kak Clara juga butuh perhatian kayak Zahra” Zahra tetap saja membelaku
“Sudahlah ma, kita biarkan saja Clara” kata papa mulai marah denganku
“Oke fine!!!!!!” jawabku sambil menangis dan menggobrak pintu kamarku.
“Maafin Zahra kak Clara. Ini boneka dan coklatnya buat kakak J Zahra sudah....”
“Sudah punya banyak?!! Atau mau dibelikan lagi?!! Sini! Makasih coklat dan bonekanya!” aku sangat marah dan kuinjak-injak coklat dan boneksa Zahra
“Kak.. jangan diinjak-injak kak.. kakak” rengek Zahra sambil memunguti coklat dan boneka yang aku injak. “kakak.. jahat sekali dengan Zahra, Zahra itu berniat baik!”
“He he Clara hentikan!” teriak mama yang baru pulang kerja.
“Mama jangan marahin kakak ma” bela Zahra
“Halah.. nggakusah ngebelain gue deh lo munafik!!!” sambungku masih marah dan kesal
“Clara!” bentak mama, lalu menamparku
“Aduh sakit ma” rengekku
“Ada apa ini?” kata papa menyambung
“Ini Clara jahatin Zahra, padahal Zahra kan udah berniat baik pa. Naik loteng pake tongkat demi mau ngasihin coklat dan boneka eh malah diinjak-injak dengan Clara”
“Clara benar?!”
“Pa jangan pa.. kak Clara juga butuh perhatian kayak Zahra” Zahra tetap saja membelaku
“Sudahlah ma, kita biarkan saja Clara” kata papa mulai marah denganku
“Oke fine!!!!!!” jawabku sambil menangis dan menggobrak pintu kamarku.
Malam ini aku kesal sekali, aku
segera mengambil ponselku lalu aku menelfon Devi sahabatku dan akhirnya Devi
menjemputku lalu aku bermalam dirumahnya.
Paginya mama menelfon Devi, ternyata mama mencariku tapi aku tetap tidakmau pulang karena aku masih kesal.
Paginya mama menelfon Devi, ternyata mama mencariku tapi aku tetap tidakmau pulang karena aku masih kesal.
Sepulang sekolah aku dan Devi
berniat menjenguk Rosa dirumah sakit. Saat hendak akan pulang aku melihat Zahra
adikku menaiki kursi roda, aku hanya diam saat melewatinya.
“Kak Clara?” panggilnya namun aku tetap diam dan langsung lari
“Clara? Kamu kenapa sih jahat banget sama adikmu?” tanya Devi menghentikan langkahku lalu menghampiriku.
“Aku kesel sama dia. Dia selalu dimanja oleh papa dan mama” jawabku sedih dan kesal
“Lihat adikmu itu. Berjalan saja dia tak mampu Ra, dia butuh kasih sayang lebih. Dia nggak senormal dan sesempurna anak-anak yang lain. Kamu malu punya adik yang pincang, tampak tua dan gundul?” jelas Devi namun aku hanya diam, tapi jujur aku masih kesal dengan Zahra yang slalu dimanja oleh mama dan papa.
“Kak Clara?” panggilnya namun aku tetap diam dan langsung lari
“Clara? Kamu kenapa sih jahat banget sama adikmu?” tanya Devi menghentikan langkahku lalu menghampiriku.
“Aku kesel sama dia. Dia selalu dimanja oleh papa dan mama” jawabku sedih dan kesal
“Lihat adikmu itu. Berjalan saja dia tak mampu Ra, dia butuh kasih sayang lebih. Dia nggak senormal dan sesempurna anak-anak yang lain. Kamu malu punya adik yang pincang, tampak tua dan gundul?” jelas Devi namun aku hanya diam, tapi jujur aku masih kesal dengan Zahra yang slalu dimanja oleh mama dan papa.
Hari sudah larut malam namun aku tak
bisa tidur, aku ingat dengan kata-kata Devi dirumah sakit tadi. Tanpa kusadari
aku meneteskan airmata, aku sadar adikku memang tak sesempurna anak-anak lain.
Padahal hanya karena waktu mengandung mama kecelakaan kenapa dia sudah tampak
seperti orang tua sekarang?
“Clara? Belum tidur?” tanya Devi sambil meluap karena bangun dari tidurnya
“Aku nggak bisa tidur Dev” jawabku dan segera mengusap air mata
“Kamu nangis?” tanya Devi lalu dia mengajakku duduk disofa kamarnya
“Aku menyesal Dev, aku sudah lama menyia-nyiakan Zahra. Aku sudah sering menolak semua kebaikannya dan berpikir dia hanya cari muka denganku. Aku menyesal Dev, aku kakak yang jahat” aku mulai menangis histeris, Devi pun menangis. Setelah lama sekali curhat dengan Devi kita berdua tidur.
“Clara? Belum tidur?” tanya Devi sambil meluap karena bangun dari tidurnya
“Aku nggak bisa tidur Dev” jawabku dan segera mengusap air mata
“Kamu nangis?” tanya Devi lalu dia mengajakku duduk disofa kamarnya
“Aku menyesal Dev, aku sudah lama menyia-nyiakan Zahra. Aku sudah sering menolak semua kebaikannya dan berpikir dia hanya cari muka denganku. Aku menyesal Dev, aku kakak yang jahat” aku mulai menangis histeris, Devi pun menangis. Setelah lama sekali curhat dengan Devi kita berdua tidur.
Pagi hari mama kerumah Devi untuk
menjemputku.
“Mama mohon Clara, kamu pulang ya sayang? Adikmu mencarimu, dari kemarin dia tidak bisa tidur. Sekarang dia masuk rumah sakit” kata mama memohon sambil menitikkan air mata
“Iya ma. Maafkan Clara mama” kemudian aku segera ikut mama kerumah sakit
“Permisi Nak Devi. Terimakasih” kata mama pada Devi.
“Mama mohon Clara, kamu pulang ya sayang? Adikmu mencarimu, dari kemarin dia tidak bisa tidur. Sekarang dia masuk rumah sakit” kata mama memohon sambil menitikkan air mata
“Iya ma. Maafkan Clara mama” kemudian aku segera ikut mama kerumah sakit
“Permisi Nak Devi. Terimakasih” kata mama pada Devi.
Sampai di Rumah Sakit aku segera
menemui Zahra. Aku menangis, menyesal telah menyianyiakan Zahra adikku. Tak
lama dokter masuk keruangan dimana Zahra dirawat
“Ibu dan bapak bisa ikut saya?” kata Dokter Faris
“Oh iya dokter” jawab papa.
“Clara kamu tungguin Zahra ya? Papa dan mama keruang dokter dulu” kata papa
“Iya papa, pa Clara minta tolong buat diizinin sekolah ya?” jawabku
“Iya sayang” jawab papa
Tak lama mama dan papa datang, lalu memelukku sambil menangis, akupun ikut menangis
“Ma.. pa.. kenapa? Zahra kenapa ma?” aku merasa heran dan menangis
“Hiks.. Zahra menderita penyakit Sindrom Progeria, makanya dia tampak sudah tua dan gundul” jawab mama menangis tersedu, aku pun berlinang air mata. Kini aku merasa menjadi kakak yang terjahat terhadap adiknya.
“Iya, penderita penyakit Sindrom Progeria membuatnya yang baru berusia 10 tahun seperti sudah tua” sambung papa ikut menangis bersedih
“Hiks.. maafkan Clara pa ma, selama ini Clara sudah jahat dengan Zahra” sungguh aku sangat menyesal.
“Iya sayang tidak apa-apa, kalau saja mama ada diposisimu yang selalu saja dibiarkan dan tidak dimanjakan mama juga akan merasa kesal sekali. Maafkan mama dan juga papa”
“Iya ma”
“Kamu pulang sana gih bareng papa,mandi, sarapan lalu kesini lagi. Biar mama yang jagain Zahra” pinta mama kepadaku
“Iya mama, Clara pulang dulu. Ayo pa ayo” ajakku pada papa.
“Ibu dan bapak bisa ikut saya?” kata Dokter Faris
“Oh iya dokter” jawab papa.
“Clara kamu tungguin Zahra ya? Papa dan mama keruang dokter dulu” kata papa
“Iya papa, pa Clara minta tolong buat diizinin sekolah ya?” jawabku
“Iya sayang” jawab papa
Tak lama mama dan papa datang, lalu memelukku sambil menangis, akupun ikut menangis
“Ma.. pa.. kenapa? Zahra kenapa ma?” aku merasa heran dan menangis
“Hiks.. Zahra menderita penyakit Sindrom Progeria, makanya dia tampak sudah tua dan gundul” jawab mama menangis tersedu, aku pun berlinang air mata. Kini aku merasa menjadi kakak yang terjahat terhadap adiknya.
“Iya, penderita penyakit Sindrom Progeria membuatnya yang baru berusia 10 tahun seperti sudah tua” sambung papa ikut menangis bersedih
“Hiks.. maafkan Clara pa ma, selama ini Clara sudah jahat dengan Zahra” sungguh aku sangat menyesal.
“Iya sayang tidak apa-apa, kalau saja mama ada diposisimu yang selalu saja dibiarkan dan tidak dimanjakan mama juga akan merasa kesal sekali. Maafkan mama dan juga papa”
“Iya ma”
“Kamu pulang sana gih bareng papa,mandi, sarapan lalu kesini lagi. Biar mama yang jagain Zahra” pinta mama kepadaku
“Iya mama, Clara pulang dulu. Ayo pa ayo” ajakku pada papa.
Sampai dirumah kulihat bi Siti
membersihkan kamar Zahra, aku segera menghampiri Bi Siti. “Bi.. biar aku saja yang
membersihkan kamar Zahra”
“Tidak usah Non, inikan sudah tugas bibi sebagai pembantu disini”
“Nggakpapa kok Bi.. please mau ya?”
“Baiklah non, kalau non memaksa”
“Terimakasih Bi” ketika membersihkan meja belajar Zahra aku menangis sejadi-jadinya. Aku melihat fotoku ketika aku mendapat juara pertama lomba pidato, foto tersebut dibingkai dengan kertas kado dan dihias. Foto itu bertuliskan “AKU INGIN SEPERTI KAKAK. YANG CANTIK PINTAR DAN JUGA BAIK”
Tiba-tiba papa masuk kekamar Zahra “Clara? Kok Clara menangis?” tanya papa
“Pa.. Clara sudah jahat Pa dengan adik. Clara kakak yang jahat pa, Clara jahat” kataku sambil menangis
“Sudahlah Clara, tidak kok. Buktinya Zahra menulis kamu cantik, pintar dan juga baik”
“Papa.. Clara menyesal pa? Maafkan Clara”
Tiba-tiba telfon rumah berbunyi, papa segera mengangkatnya dan aku mengikuti papa dibelakang. “Apa?” jawab papa seketika langsung menangis
“Papa.. kenapa pa? Papa”
“Sabar Clara.. hiks adik mu sudah tiada” kata papa, aku pun pinsan seketika.
“Tidak usah Non, inikan sudah tugas bibi sebagai pembantu disini”
“Nggakpapa kok Bi.. please mau ya?”
“Baiklah non, kalau non memaksa”
“Terimakasih Bi” ketika membersihkan meja belajar Zahra aku menangis sejadi-jadinya. Aku melihat fotoku ketika aku mendapat juara pertama lomba pidato, foto tersebut dibingkai dengan kertas kado dan dihias. Foto itu bertuliskan “AKU INGIN SEPERTI KAKAK. YANG CANTIK PINTAR DAN JUGA BAIK”
Tiba-tiba papa masuk kekamar Zahra “Clara? Kok Clara menangis?” tanya papa
“Pa.. Clara sudah jahat Pa dengan adik. Clara kakak yang jahat pa, Clara jahat” kataku sambil menangis
“Sudahlah Clara, tidak kok. Buktinya Zahra menulis kamu cantik, pintar dan juga baik”
“Papa.. Clara menyesal pa? Maafkan Clara”
Tiba-tiba telfon rumah berbunyi, papa segera mengangkatnya dan aku mengikuti papa dibelakang. “Apa?” jawab papa seketika langsung menangis
“Papa.. kenapa pa? Papa”
“Sabar Clara.. hiks adik mu sudah tiada” kata papa, aku pun pinsan seketika.
Ketika sudah tersadar, aku sudah
melihat jenazah Zahra diruang tamu, mama dan papa menangisi disampingnya. Aku
segera menghampiri, aku menangis sejadi-jadinya, menyesal telah menyakiti
Zahra.
“Sabar ya Ra?” kata teman-temanku mendekat. Tak lama jenazah Zahra dimakamkan, aku, mama dan juga papa mendoakan Zahra agar ditempatkan disisi Allah yang terbaik. Dan dimaafkan segala kesalahannya. Karena aku yakin Zahra adalah anak yang istimewa didunia ini, aku sungguh senang telah mendapat adik sepertinya dari Tuhan walaupun aku belum sempat membuatnya bahagia dan selalu menyakitinya. Maafkan aku Zahra..maafkan aku dik, kakak akan selalu mendoakanmu.
“Sabar ya Ra?” kata teman-temanku mendekat. Tak lama jenazah Zahra dimakamkan, aku, mama dan juga papa mendoakan Zahra agar ditempatkan disisi Allah yang terbaik. Dan dimaafkan segala kesalahannya. Karena aku yakin Zahra adalah anak yang istimewa didunia ini, aku sungguh senang telah mendapat adik sepertinya dari Tuhan walaupun aku belum sempat membuatnya bahagia dan selalu menyakitinya. Maafkan aku Zahra..maafkan aku dik, kakak akan selalu mendoakanmu.

0 komentar:
Posting Komentar